Hidup
Kenapa harus hidup? Pertanyaan sederhana yang berkecamuk dalam otak saya. Kenapa hidup bila ada opsi mati? Kenapa kita tidak bisa memilih kapan hidup sebagai penghuni planet ini, tetapi bisa memilih mati? Seperti tidak adil ya, atau mungkin hanya kita melupakan kapan kita memilih untuk hidup? Yah, terlalu spiritual.
Bagi
saya, hidup itu sesuatu yang menakutkan sekaligus membahagiakan.
Dengan hidup, kita harus mengalami segala pahit yang ada di planet
ini, sakit hati, kelaparan, kemiskinan, kesenjangan sosial, perang,
dan hal mengerikan lainnya. Saya belum memahami kenapa kita terlahir
dengan segala naluri ini, kekuatan, hasrat, kekuasaan, keserakahan,
dan sebagainya. Semua naluri itu kita tutupi dengan perkataan
“bertahan hidup”. Sekejam itukah perjuangan untuk bertahan tetap
hidup di planet ini? Entah kenapa sejak zaman dahulu, entah kita
berasal dari bakteri, protozoa, dinosaurus, atau debu(?) terserah
mana yang kita percaya, tetapi selalu berlaku yang paling kuat lah
yang dapat hidup dengan nyaman. Kita ambil contoh dari dinosaurus,
katakanlah T-Rex yang paling kuat, ia dapat makan, pergi, dan
melakukan apapun yang dia mau tanpa takut diganggu, sedangkan
dinosaurus kecil harus pasrah memakan bangkai sisa makanan dinosaurus
besar dan harus merasa “was-was” karena mereka bisa menjadi
santapan dinosaurus besar kapan saja mereka lengah. Mungkin dari
tradisi itulah manusia mengejar kekuatan sampai zaman manusia modern
ini. Yah, cukup wajar karena semua makhluk ingin hidup senyaman
mungkin, dan saat ini yang bisa memenuhi itu adalah dengan
mempergunakan kekuatan.
Berbicara
tentang menjadi kuat di era modern ini, berapakah peluang setiap bayi
yang lahir untuk memiliki kekuatan itu? Tentu saja tidak akan sama
rata, karena sebagian besar tergantung di keluarga mana bayi itu
lahir. Bayi yang lahir di keluarga kaya raya dengan perusahaan yang
siap diwariskan tentunya memiliki peluang besar untuk memiliki
kekuatan ataupun kekuasaan, minimal kuasa atas perusahaan keluarga
tersebut. Bagaimana dengan bayi yang lahir dari keluarga miskin atau
bahkan bayi yang lahir tanpa hadirnya keluarga, karena ia dibuang?
Tidak layakkah mereka memiliki kekuatan? Mungkin banyak orang
mengatakan “tentu layak”, yah baiklah, tapi bayangkan perjuangan
seperti apa yang harus mereka lakukan, sangat mengenaskan ketika
melihat proses perjuangan mereka dengan mengais-ngais serpihan dari
orang-orang kuat. Terlalu pahit untuk saya tuliskan. Atau ada yang
berpikir, “inilah keadilan” ? Sayangnya saya bukan bagian dari
orang yang menganggap ini adalah keadilan. Mungkin ada yang berkata
“orang yang memiliki kekuatan juga memiliki masalah mereka sendiri”
, ya baiklah, tetapi berapa peluang mereka berurusan dengan
pertanyaan “apa yang harus saya lakukan agar besok pagi masih
hidup?”
Baiklah,
anggap saja kita harus menerima semua itu dan mencoba untuk hidup.
Bagi saya, hidup itu bukan tentang berkuasa dan sebagainya, hidup
adalah tentang kedamaian sejati. Ketika manusia bertujuan untuk
damai, semuanya akan baik-baik saja. Damai memiliki spektrum yang
lebih luas daripada nyaman. Ketika kita mencari kenyamanan, bisa saja
itu kontra dengan persepsi nyaman orang lain. Tetapi kedamaian tidak
akan saling berbenturan meskipun dilihat dari perspektif manapun.
Contoh kecil, ketika kita sedang makan lalu datanglah pengemis yang
dekil dan bau, ketika bicara kenyamanan mungkin kita akan merasa
tidak nyaman ketika makan dan harus berhadapan dengan hal semacam itu
dan bisa saja kita langsung mengusir pengemis tersebut karena merasa
tidak nyaman. Tetapi ketika berbicara kedamaian, mungkin kita akan
memberi apa yang pengemis itu butuhkan, dan merasa lega telah
membantu orang yang membutuhkan dengan mengesampingkan kenyamanan
kita saat itu. Setelah peristiwa itu kita bisa bahagia karena telah
melihat pengemis yang tersenyum setelah menerima uang atau benda yang
ia butuhkan, dan pengemis pun bahagia telah mendapati orang yang
peduli dengan kehidupannya. Tetapi bagaimana bila yang terjadi adalah
kita tidak memiliki uang atau barang yang bisa diberikan kepada
pengemis itu? Bila semua orang mencari kedamaian, termasuk pengemis
tersebut, tidak ada yang akan sakit hati ketika kita berkata “maaf
saya tidak bisa memberi”, karena pengemis akan segera mengerti dan
berpikir “tidak apa-apa, mungkin tidak ada uang yang bisa dibagi
karena sudah di press dengan kebutuhan nya pribadi”. Tetapi jika
pengemis mencari kenyamanan dalam hidup, bisa jadi ia tidak nyaman
dengan kondisi tersebut dan akan memasang wajah sinis bahkan
mencemooh kita. Bagi saya itu sedikit gambaran tentang kedamaian dan
idealisme tentang hidup yang ada di otak saya.
Hidup
Reviewed by Vincentius Andrean
on
Juni 26, 2018
Rating: 5
Reviewed by Vincentius Andrean
on
Juni 26, 2018
Rating: 5

